'CONFUCIUS', Pengembaraan Sang Filsuf Agung
30 Hal yang membuat CEWEK TERSEYUM
BOLEH PERCAYA BOLEH NGGAK GAN
1. Don't hug her friends or your friends that are girls cause she'll feel left out.
Jangan memeluk temannya atau temanmu dimana hal itu bisa membuatnya merasa ditinggalkan.
2. Hold her hand at any moment . . . even if it's just for a second.
Pegang tangannya pada setiap kesempatan... meskipun hanya sedetik saja.
3. Hug her from behind.
Peluk dia dari belakang.
4. Leave her voice messages to wake up.
Tinggalkan pesan suara untuk dia untuk membangunkan dia dari tidurnya.
5. Wrestle with her.
Bergulat dengan dia.
6. Don't go hang out with your ex when shes not with you, you might not realize how badly it hurts her.
Jangan pergi jalan-jalan dengan mantanmu jika dia sedang tidak bersama kamu, kamu mungkin tidak mengetahui betapa menyakitkannya hal itu bagi dia.
7. If you're talking to another girl, when you're done talking, walk over and hug her and kiss her.... let her know she's yours and they aren't.
Jika kamu sedang berbicara dengan seorang Cewe, setelah kamu selesai berbicara, berjalanlah dan peluklah dia serta ciumlah dia... Tunjukkan pada dia bahwa dia milikmu dan mereka bukan apa-apa.
8. Write her notes or call her just to say "hi"..and not just at night after you've already been out with other girls.
Tuliskan dia sebuah catatan atau telepon dia hanya untuk sekedar menyapanya... dan tidak hanya pada saat malam hari setelah kamu bepergian dengan Cewe-Cewe lain.
9. Introduce her to your friends . . . as your girlfriend.
Perkenalkan dia pada teman-temanmu... sebagai kekasihmu.
10. Play with her hair.
Bermain dengan rambutnya.
11. Pick her up
Gendong dia.
12. Get upset if another guy touches her and she doesn't like it.
Merasa kesal apabila ada Cowo lain memegang-megang dia dan dia tidak menyukainya.
13. Make her laugh, if you can make her laugh, you can make her do anything.
Buat dia tertawa, jika kamu bisa membuat dia tertawa. kamu bisa membuat dia melakukan apa saja.
14. Let her fall asleep in your arms.
Biarkan dia tertidur lelap di dalam pelukanmu.
15. If she's mad at you, kiss her.
Jika dia marah padamu, cium dia.
16. If you care about her, then tell her.
Jika kamu perhatian pada dia, katakan.
17. Every guy should give their girl 3 things: a stuffed animal(she'll hug it every time she goes to sleep), jewelry (she'll treasure it forever), and one of his t-shirts (she'll most likely wear it to bed).
Setiap Cowo harus memberikan Cewe mereka 3 benda: boneka binatang (dia akan membawanya dan memeluknya setiap kali dia akan tidur), perhiasan (dia akan menyimpannya dengan baik-baik untuk selamanya), dan baju yang dimiliki sang Cowo (dia akan memakainya ketika tidur).
18. Treat her the same around your friends as you do when you're alone.
Perlakukanlah dia sebagaimana biasanya, meskipun sedang berkumpul dengan teman-teman.
19. Look her in the eyes and smile.
Tataplah kedua matanya dan tersenyumlah pada dia.
20. Hang out with her on weekends.
Pergi jalan-jalan dengan dia tiap akhir pekan.
21. Kiss her in the rain.
Cium dia di bawah guyuran hujan.
22. If your listening to music, let her listen too.
Jika kamu sedang mendengarkan musik, biarkan dia ikut mendengarnya bersama kamu.
23. Remember her birthday and get her something, even if it's simple and inexpensive, it came from YOU. it means all the world to HER. it's the thought that counts.
Ingat hari ulang tahunnya dan belikan dia sesuatu, meskipun itu sederhana dan tidak mahal, itu adalah pemberian dari KAMU. Itu berarti segalanya bagi DIA.
24. When she gives you a present on your birthday, or just whenever, take it and tell her you love it, even if you don't (it'll make her happy.)
Ketika dia memberikan hadiah pada hari ulang tahunmu, atau pada saat-saat tertentu, ambillah dan katakan pada dia bahwa kamu menyukainya, meskipun sebenarnya tidak (hal itu akan membuatnya senang).
25. Girl don't necessarily have to have hour-long conversations every night, but it's nice for them to hear your voice even for a quick hello.
Cewe tidak butuh pembicaraan lewat telepon yang panjang dan berjam-jam tiap malam, yang terpenting adalah bisa mendengar suara kamu meskipun hanya sekedar sapaan atau 'halo?'.
26. Give her what she wants
Berikan dia apa yang dia mau.
27. Recognize the small things . . . they usually mean the most.
Hargai setiap hal kecil... itu biasanya berarti besar.
28. Tell her she's beautiful, she needs to know her striving is working.
Katakan pada dia bahwa dia cantik atau menarik, dia perlu tahu bahwa dandanannya tidak sia-sia.
29. Hang out with her whenever you are free and u should be free to hang with your girlfriend all the time
Pergi jalan-jalan bersama dia setiap kali kamu nganggur dan kamu harus siap mengajak kekasihmu jalan-jalan kapan saja.
30. If u care about her...SHOW it!
Jika kamu perhatian pada dia... TUNJUKKAN!
Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup
Saat itu, Dhuha, hari terakhir aku di Masjid Nabawi untuk
menuju Makah....... . , aku bertanya pada Ibu, Ibu adalah pemilik Maknah Tour
Travel dimana saya bergabung untuk Umrah dibulan July 2007 yang lalu. 'Ibu, kataku, ada cerita apa yang menarik dari Umrah....?
Maklum, ini pertama kali aku ber Umrah). Dan Ibu,
memberikan Tausyiahnya.
Kebetulan umrahku dimulai di Madinah selama 4 hari, baru ke Makah.
Tujuannya adalah mendapatkan saat Malam Jumat di depan Kabah. Ibu berkata...' , * Allah hanya memanggil kita 3 kali saja seumur hidup*
Keningku berkerut.... ....'Sedikit sekali Allah
memanggil kita..?'
Ibu tersenyum. 'Iya, tahu tidak apa saja 3 panggilan itu..?'
Saya menggelengkan kepala.
'Panggilan pertama adalah
Adzan, ujar Ibu.
'Itu adalah panggilan Allah yang pertama. Panggilan ini sangat jelas terdengar di telinga kita, sangat kuat terdengar.
Ketika kita sholat, sesungguhnya kita menjawab panggilan Allah. Tetapi Allah masih fleksibel, Dia tidak 'cepat marah' akan sikap kita.
Kadang kita terlambat, bahkan tidak sholat sama sekali karena malas.
Allah tidak marah seketika. Dia masih memberikan rahmatNya, masih memberikan kebahagiaan bagi umatNya, baik umatNya itu menjawab panggilan Adzan-Nya atau tidak.
Allah hanya akan membalas umatNyaketika hari Kiamat nanti'. Saya terpekur.... . .mata saya berkaca-kaca. Terbayang saya masih melambatkan sholat karena meeting lah, mengajar lah, dan lain lain.
Masya Allah.......
Ibu melanjutkan,
Panggilan yang kedua adalah Panggilan
Umrah/Haji
Panggilan ini bersifat halus. Allah memanggil hamba-hambaNya dengan panggilan yang halus dan sifatnya 'bergiliran' .
Hamba yang satu mendapatkan kesempatan yang berbeda dengan hamba yang lain.
Jalan nya bermacam-macam. Yang tidak punya uang menjadipunya uang,
yang tidak merencanakan, ternyata akan pergi,
ada yang memang merencanakan dan terkabul.
Ketika kita mengambil niat Haji / Umrah, berpakaian Ihram dan melafazkan
'Labaik Allahuma Labaik/ Umrotan',
sesungguhnya kita saat itu menjawab panggilan Allah yang ke dua.
Saat itu kita merasa bahagia, karena panggilan Allah sudah
kita jawab,meskipun panggilan itu halus sekali.
Allah berkata, laksanakan Haji / Umrah bagi yang
mampu'.
Mata saya semakin berkaca-kaca. ........Subhanallah......
.saya datang menjawab panggilan Allah lebih cepat dari yang saya rancangkan..
...Alhamdulill ah...
'Dan panggilan ke-3', lanjut Ibu, 'adalah
KEMATIAN
Panggilan yang kita jawab dengan amal kita.
Pada kebanyakan kasus, Allah tidak memberikan tanda tanda
secara langsung,dan kita tidak mampu menjawab dengan lisan dan
gerakan. Kita hanya menjawabnya dengan amal sholeh.
Karena itu ,manfaatkan waktumu sebaik-baiknya. ..Jawablah 3 panggilan
Allah dengan hatimu dan sikap yang Husnul Khotimah.... .......Insya Allah syurga adalah balasannya.. ...'
Mata saya basah di dalam Masjid Nabawi , saya sujud bertaubat pada Allah
karena kelalaian saya dalam menjawab panggilanNya. ....Kala itu hati saya
makin yakin akan kebesaranNya, kasih sayangNya dan dengan semangat menyala-nyala, saya mengenakan baju Ihram dan berniat.....
....Aku menjawab panggilan UmrahMu, ya Allah, Tuhan Semesta Alam........
Huraisy
Pada hari kiamat akan keluar seekor binatang dari neraka jahanam yang bernama 'Huraisy' berasal dari anak kala jengking.
Besarnya Huraisy ini dari timur hingga ke barat. Panjangnya pula seperti jarak langit dan bumi.
Malaikat Jibril bertanya : 'Hai Huraisy! Engkau hendak ke mana dan siapa yang kau cari?'
Huraisy pun menjawab, 'Aku mau mencari lima orang.'
Pertama, orang yang meninggalkan sholat
Kedua, orang yang tidak mahu keluarkan zakat.
Ketiga, orang yang durhaka kepada ibu dan bapaknya.
Keempat, orang yang bercakap tentang dunia di dalam masjid.
Kelima, orang yang suka minum arak.
sampaikan pesanan ini biarpn 1 ayat.. Wallahualam
Pray to Allah
if one day i fall in love, please show me the one whose heart filled w/ our love
Allahu Rabbi...
if one day we fall in love, plis let our luv for u grows stronger,
Allahu Robbi...
if one day you let us together in a marriage please blesses us w/ our never ending love.....
Amin...
APARTEMEN LANTAI 60
Sesampainya mereka di sana , mereka menemui developer. Ternyata, apartemen itu baru setengah jadi dan lift belum terpasang. Mereka sangat kecewa ibuatnya. Mereka ingin pulang ke rumah lama mereka, tapi kontrak mereka sudah habis. Dengan sangat terpaksa, mereka harus tetap naik ke atas sana dan tinggal di dalamnya menggunakan tangga darurat. Mereka naik membawa semua barang mereka menggunakan tangga darurat. tangga demi tangga dilalui, mereka terus maju dengan semangat membara. Sesampainya mereka di lantai 25 mereka kelelahan, mereka makan dan minum dengan lahapnya. Lalu mereka melihat barang-barang mereka, semuanya utuh. Timbul sebuah pikiran untuk mengurangi barang bawaan mereka. Lalu mereka memutuskan untuk meninggalkan meja telepon dengan teleponnya. "Toh di atas kita tidak perlu telepon atau pesan apa-apa," demikian menurut mereka.
Di lantai 30 mereka tinggalkan baju, mainan dan lemari pakaian mereka. "Toh kita masih memakai baju." Lalu mereka terus melaju ke lantai 35, mereka masih mengeluh dan memutuskan untuk meninggalkan barang mereka lagi yaitu televisi dan radio serta compo. "Soalnya kita tidak perlu nonton tv, toh acara dan lagu-lagu yang kita punya itu-itu saja." Teruslah mereka melaju sampai lantai 45, rasanya masih berat dan tidak menyenangkan. Maka mereka tinggalkan kompor dan bahan makanan yang mereka bawa. "Toh tadi masih kenyang makan banyak." Lalu, di lantai 55 teropong dengan tripod yang sangat besar mereka tinggalkan begitu saja. "Toh di atas mau lihat apa, belum jadi semua tower yang lain."
Sesampainya di lantai 60, mereka masuk dan menyadari yang mereka miliki hanya sebuah kasur. Tidak ada jalan lain, mereka hanya ingin tidur karena tidak ada pilihan lain. And so.... what's the point?
Mungkin Anda bingung kenapa perumpamaan ini Sangat panjang. Perjalanan itu melambangkan kehidupan. Tiap lantai yang ada, melambangkan umur. Dan Anda adalah keluarga tersebut. Barang-barang tersebut adalah mimpi Anda, barang-barang tersebut adalah perlambang tindakan Anda.
Di umur 25 Anda mulai bekerja dan memutuskan untuk fokus pada pekerjaan Anda, tanpa sadar Anda telah mengeliminasi banyak sahabat potensial.
Di umur 30 Anda sudah tidak memperhatikan penampilan dan melupakan hobi Anda akibat sulitnya bersaing.
Di umur 35 Anda mulai melupakan kesenangan yang Anda dambakan di hari tua akibat kenyataan bahwa tabungan Anda tidak mencukupi.
Di umur 45 Anda berhenti makan makanan yang Anda sukai akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan di usia 25 yang mulai berdampak buruk di usia ini.
Di umur 55 Anda benar-benar melupakan keinginan menikmati hari tua dengan memandang indahnya hidup dengan menikmati apa yang Anda lewati, Anda mulai kuatir dengan masa depan anak Anda. Di umur 60, Anda menyesal tidak banyak yang Anda dapat akibat tidak ada mimpi yang direalisasikan. Anda hanya ingin cepat tidur selamanya, karena Anda sudah tidak bisa lagi makan makanan enak, Anda tidak memiliki * achievement* yang bisa dibanggakan, Anda tidak punya siapapun yang menjadi sahabat Anda, Anda tidak bisa menikmati hobi Anda di masa muda, kesehatan badan mengkuatirkan.
Hidup cuma datang sekali. Jadi pastikan, Anda akan berjuang untuk mencapai mimpi-mimpi Anda! Jangan lepaskan, tapi usahakan. Jangan sampai kita kehabisan pilihan dalam menjalani hidup. *Dreaming is a freedom, so free your dreams
Aku Cinta Dia
Dari pengenalan menjadi pendekatan..
Dari percobaan menjadi keseriusan...
Awalnya tak mau memikirkan logika
Yang terpenting cinta telah bicara..
Tak peduli bagaimana akhirnya..
Waktupun merayap pasti..
Kebersamaan membuat kasih yang begitu dalam..
Sangat indah dan tak mungkin dilupakan...
Perbedaanpun di abaikan..
Pertentangan menjadi penghalang
Semua hancur..
Aku menangis dalam perihku..
Cinta terbesarku harus kukorbankan..
Entah demi siapa..??
Demi keluarga atau agama
Perbedaan yang tak bisa disatukan
Membuat aku dan dia terluka
sama-sama terluka..
Mengumpulkan puing-puing perjalanan cinta
Sesak dadaku mengenangnya..
Siapa yang bisa disalahkan..
Waktu yang telah mempertemukan
Ataukah aku yang tak mengindahkan logika
Aku mencintainya..
Tulus tanpa syarat apa-apa
Sedetikpun aku tak mampu bergeming
Cintaku begitu besar..
Cinta terbesar yang terjalin dalam sebuah perbedaan
Tuhan..aku cinta dia..
Haramkah kika aku mencintainya
Salahkah jika aku menyayangnya..
semuapun harus kulepaskan..
Termasuk dia..
Cintaku dan cintanya..
Tertulis hanya dalam sebuah cerita
Bukan pengukuhan dalam satu ikatan..
Berjalan sendiri
Tapi hati saling memiliki..
Kulepaskan dia...
Semoga cintaku selalu menjaganya..
Sinetron MANOHARA, Tak Seperti yang Dibayangkan

Jika dilihat dari beberapa episode yang sedang jalan, kisahnya mirip-mirip Muslimah, Inayah dan lainnya. Intinya tetap penyiksaan suami pada istrinya yang tidak berdaya. Hanya latar dan pelaku saja barangkali, yang membedakannya dengan sinetron lain.
Masyarakat sebenarnya ingin tahu kisah Manohara sesungguhnya, sehingga sampai dalam pelukan pangeran Kelantan. Cerita-cerita Manohara tentang penyiksaan pada dirinya selama hidup dengan Fahri, tentunya membuat sinetron ini bakal jadi sinetron yang dinantikan.
Tapi ternyata, latar sinetron masih Indonesia, bukan di Malaysia. Jangan pula dibayangkan, Manohara akan memakai bahasa separo ular separu belut. Plus dia hidup dalam aturan istana yang ketat. Bagaimana ia harus berpura-pura selalu ceria dan sebagainya.
Tapi yah... ternyata hanya segitu aja... Manohara syutingnya di Indonesia. Dengan mendapat suami kejam seperti Rico (Oka Antara), anak orang kaya. Dibilang sinetron ini ramah untuk Ramadan, jelas jauh panggang dari api.
Penonton akan tetap disuguhkan pada penyiksaan demi penyiksaan, demi untuk membuat sinetron menjadi menarik. Tapi satu hal yang pasti, ada rasa takut pada sutradara untuk membuat film berjalan sebagaimana rillnya. Takut digugat pihak Kelantan ya....?
Kisah Adam Dan Hawa
Kali ini saya ingin menulis tentang kisah Adam dan Hawa dari sudut pandang yang saya pahami. Jadi Tulisan ini hanya subjektif dari sudut pandang saya yang kebetulan telah di cekokin ajaran mistik dari berbagai agama.
Sebagaimana kita ketahui bersama kalo kisah adam dan hawa ini ada di 3 agama besar yakni yahudi, kristen, dan islam. Di mana kisahnya secara literal merupakan dongeng penciptaan manusia, dan kemudian tentang mengapa manusia itu akhirnya terdampar di bumi yang penuh derita ini *sigh*. Terus terang saja saya kadang pengen memaki Adam kenapa sih dia tergoda ama Hawa, sehingga harus meninggalkan surga yang dalam bayanganku sih tempat yang paling enak. Gimana nggak enak jika kita bebas mengumbar nafsu tanpa takut akan dosa (ini surga versi katanya loh ya).
Tapi itu dulu, ketika saya memahami kisah Adam dan Hawa hanya literal, sekarang setelah saya punya pemahaman laen sepertinya tidak perlu menyalahkan yang di luar diri , apalagi Adam yang entah siapa dan kapan hidupnya itu.
Adapun Kisah yang saya pahamin dari kisah Adam dan Hawa adalah sebagai berikut:
Adam adalah yang di sebut dalam agama sebagai tiupan roh dari Allah, citra Tuhan, dll lagi sebutan yang berbau Tuhan. Jadi adam itu adalah sisi keilahian dari manusia.
Hawa adalah nafsu yang tentu saja telah kita maklumi bersama sebagai sebab utama yang menyebabkan manusia mempunyai kehidupan yang sulit, atau bisa juga di sebut sebagai jauh dari surga.
Jadi dari pengertian adam dan hawa di atas, mari kita tinjau kisah penciptaan manusia, tampaknya ketika hanya adam aja yang ada maka hidup manusia menjadi monoton seperti malaikat, tidak bisa bersenda gurau, maka pada akhirnya hawa diciptakan sebagai temannya adam. Nah di saat terciptanya hawa ini sebagai temen adam, maka lahirlah yang so called dualitas itu. Di mana jika ada terang ada gelap, ada baik ada buruk, dsb. Maka di mulailah kehidupan manusia seperti yang kita alami sekarang ini.
Dan mengenai kisah adam di goda hawa sehingga di usir dari sorga, hingga jatuh ke dunia (akhirnya mencicipi neraka). Dapat di artikan sebagai sifat ilahi manusia (sang adam) tergoda untuk menuruti nafsu (sang hawa), dan tebak saja apa yang terjadi ketika manusia menjadikan nafsu sebagai tuannya. Suatu penderitaan yang tak berujung, yang bahasa kerennya kita sebut neraka jahanam.
Dari kisah adam dan hawa itu, dapat di tarik hikmah bahwa sifat keilahian dan nafsu itu sudah built in dalam diri manusia, dan itulah yang menyebabkan kita menjadi manusia. Nah sekarang masalahnya bagaimanakah hubungan antara adam dan hawa ini agar kita bisa menikmati yang namanya surga dan jauh dari neraka?
Agar kita dapat senantiasa menikmati surga dan terhindar dari neraka adalah dengan menempatkan adam sebagai pemimpin bagi hawa (sepertinya mirip kisah mengapa pria harus memimpin perempuan – yg sayangnya sering diartikan secara literal ) , jadi sifat keilahian manusialah yang mengarahkan nafsu kita. Seperti kisah krisna (ilahi) yang mengekang kuda perang (nafsu) sang arjuna (manusia).
Oh iya, satu lagi jangan salahkan adam jika kamu menderita di dunia ini.
Bersama Ibu Asma (Mantan Ketua Muslimat NU) Dan Bunda Lily Zakiyah Munir
Anjing Menyingkap Pembunuh Majikannya
Di dekat rumahnya, di Baghdad ia bertetangga dengan seorang laki-laki dari kalangan orang-orang fanatik yang suka bermain dengan anjing.
Suatu hari ia pergi sampai larut malam untuk suatu hajat, lalu diikuti anjing kesayangannya namun ia mengusirnya, tetapi anjingnya ini tidak mau pulang sehingga terpaksa ia biarkan ikut.
Ia terus berjalan hingga berhenti di tempat ‘mangkal’ beberapa orang yang memendam rasa permusuhan terhadapnya. Mengetahui kehadirannya di situ apalagi dirinya tanpa bersenjata, maka mereka pun menangkapnya. Sementara anjingnya yang ikut membuntuti sang majikan melihat apa yang dilakukan mereka. Rupanya, mereka membawanya masuk ke rumah diikuti anjing dengan diam-diam. Di sana, mereka membunuh majikannya tersebut lalu menguburkannya di sebuah sumur di dalam rumah itu. Karena melihat ada anjing, mereka pun menggebuknya, untung saja anjing itu bisa lari sekali pun terluka. Anjing yang dalam keadaan terluka ini mendatangi rumah majikannya sembari menggonggong namun penghuni rumah tidak menghiraukannya.
Sementara itu, sang ibu merasa kehilangan putranya karena seharian ini belum juga nongol. Namun akhirnya ia dapat mengetahuinya melalui kondisi anjingnya yang mengalami luka cukup parah. Ia berpikir bahwa ini pasti perbuatan orang yang membunuh putranya dan putranya tentu sudah dihabisi. Karena itu, ia pun mengadakan undangan makan dan mengusir anjingnya itu dari pintu.
Akan tetapi, anjing itu tidak beranjak dari pintu itu dan tidak lari. Mereka biasanya dalam beberapa kesempatan selalu mencarinya.
Suatu hari, beberapa orang yang membunuh majikan anjing itu lewat di depan pintu rumahnya sementara anjing saat itu sedang berbaring. Melihat wajah orang-orang tersebut, ia langsung mengenalnya. Seketika ia melukai betis salah seorang dari mereka, menggigit sembari menggelayut di tubuhnya.
Orang-orang itu berusaha menyelamatkan teman mereka dari gigitan anjing namun tidak berhasil sehingga suasana pun jadi gaduh. Kemudian datanglah SATPAM rumah untuk melihat keadaan seraya berkata, “Anjing ini tidak akan bergelayutan pada orang ini kecuali karena ia punya kisah dengannya. Barangkali dia lah yang telah melukainya.”
Tak berapa lama, keluarlah ibu majikan anjing tersebut dan ketika ia melihat wajah orang yang digigit itu sedang digelayuti anjing dan mendengar ucapan SATPAM, ia kemudian melihatnya secara teliti dan mengamatinya. Setelah itu, barulah ia teringat bahwa orang tersebut adalah salah seorang yang pernah bermusuhan dengan putranya dan selalu mencarinya. Bahkan terbetik dalam diri sang ibu bahwa dia lah yang telah membunuh putranya. Akhirnya, ia memastikan hal itu dan menuduh orang tersebut sebagai pelaku pembunuhan. Sang ibu ini lalu memperkarakan orang tersebut kepada pihak kepolisian yang kemudian menahannya setelah sebelumnya dipukul terlebih dahulu agar mau mengaku tetapi sayang ia tidak mau mengaku. Maka, anjing itu pun tetap berada di pintu sel setia menunggu orang tersebut.
Setelah beberapa hari berlalu, orang itu pun dibebaskan. Ketika ia keluar, sang anjing kembali menggelayutinya seperti sebelum-sebelumnya, maka orang-orang pun merasa aneh dengan tingkah anjing tersebut.
Menyikapi kejadian aneh itu, kepala kepolisian merencanakan sesuatu untuk menjebak para pembunuh majikan anjing itu. Ia secara rahasia berbisik kepada beberapa anak buahnya agar memisahkan anjing itu dari orang tersebut, lalu membuntuti kemana orang itu pergi untuk mengetahui kediamannya dan agar dapat terus memantaunya. Maka, perintah itu pun dipatuhi anak buahnya.
Sementara anjing terus berjalan di belakang orang yang dituduh membunuh itu, diikuti anak buah kepala kepolisian yang juga membuntuti dari belakang hingga sampai ke kediaman para penjahat tersebut.
Kemudian polisi yang dikirim atasannya itu mendobrak kediaman tersebut secara mendadak, namun tidak menemukan apa-apa. Lalu anjing yang turut masuk melolong dan mencari-cari letak sumur di mana majikannya dikubur dan dibuang.
Sang polisi berkata, “Gali tempat yang telah digali anjing ini.!” Maka tempat itu pun digali dan ternyata mayat korban dapat ditemukan.
Kemudian penjahat itu dibawa dan dipukuli. Setelah berkali-kali digebuki, barulah ia mengaku bahwa dirinya dan teman-temannya lah yang melakukan pembunuhan itu. akhirnya, ia pun dieksekusi mati sementara teman-temanya yang lain masih terus diburu karena berhasil melarikan diri.
(SUMBER: Nihaayah azh-Zhaalimiin karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimy, Juz.IX, h.91-94, no.39 sebagai yang dinukilnya dari I’laam Ahl al-‘Ashr al-Ahbaab Bi Ahkaam al-Kilaab karyanya sendiri yang belum dicetak -barangkali sudah dicetak sekarang, red-)
Catatan Andi F. Noya
Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said,
Malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.
Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia. Biasanya satu sampai dua jam saya di
Orang
Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.
Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di
Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil datang. Dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.
Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami – ibu, dua kakak, dan saya – harus bisa bertahan hidup sebulan.
Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?
Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.
Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.
Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras."
Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.
Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak.
Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh. Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok.
Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion. Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang lecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul.
Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.
MENJARING PEMIMPIN MASA DEPAN

Pada saat ini terdapat proses perubahan mendasar dalam sistem kenegaraan kita, yang sangat mempengaruhi strategi perjuangan organisasi. Tuntutan demokratisasi dan wacana keterbukaan yang begitu dahsyat telah mampu menumbangkan kekuasaan negara totaliter, melalui gerakan reformasi.
Di sisi lain, di saat Nahdlatul Ulama berusaha memapankan posisinya sebagai motor penggerak terciptanya civil society yang kokoh, tiba-tiba Gus Dur, Bapak sekaligus Guru Besar NU terpilih menjadi presiden RI yang keempat. Mau tidak mau, NU harus melakukan reposisi, dan redefinisi dalam rangka memnetukan strategi keberperanannya dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks upaya reposisi, dan juga regenerasi, maka dalam pelatihan kader muda IPNU ini menemukan momentumnya dalam rangka menjaring pemimpin-pemimpin masa depan, terkhusus di lingkungan Nahdlatul Ulama.
IPNU jika diibaratkan sebagai perahu yang lengkap nakhodahnya dan menunggu waktu untuk berlayar, permasalahannya sekarang adalah, bagaimana kesiapan para penumpang (baca: massa IPNU) untuk berlayar bersama-sama. Sudahkah mental kader-kader kita tertata rapi untuk menaiki kapal yang bagi mereka terkesan baru sehingga dapat berlayar bersama mengarungi samudera dengan suasana kondusif dan mengasyikkan. Atau justru karena ketidaksiapannya untuk berlayar (atau lebih tepatnya belum siapnya), mereka malah nyerimpungi dan menyebabkan kapal ini karam.
Atau justru mereka telah sangat siap dengan keluguannya, karena mereka biasa berlayar untuk menuai ikan dilaut, sementara nahkodanya tidak terlatih mengemudikan perahu, sehingga tidak akan pernah sampai di pelabuhan.
Ada sebuah kehidupan masyarakat yang mandiri terhadap negara. Mereka juga punya komitmen untuk tetap terikat pada norma-norma yang telah disepakati bersama. Kemandirian itu terjadi lantaran kehidupan ekonomi mereka telah bisa dilaksanakan secara swasembada. Bukan Cuma itu. Nilai-nilai keswadayaan serta kesukarelaan telah menjadi ”gaya hidup” mereka.
Gambaran diatas merupakan type ideal dari masyarakat kewargaan (sipil), atau yang disebut civil cosiety. Sebuah cita-cita yang masih jauh bila dihubungkan dengan realitas bangsa kita. Namun gerakan-gerakan untuk mencapai ke arah itu, kini telah dilakukan oleh berbagai pihak. Dan Gus dur merupakan salah satu pentolannya.
Kiai Harisah : “Kiai kampung, Pejuang NU”
Membaca tulisan kang Acep Zamzam Noor (putra kiai Ilyas Ruchiyat) yang berjudul NU dan Kiyai kampung, saya langsung teringat dengan kiai harisah (pimpinan pondok pesantren Annahdlah makassar) beliau bukan hanya sebagai guru yang mengajarkan luasnya lautan keislaman tetapi beliau juga sebagai sosok pemimpin yang luar biasa.
Gaya berfikir beliau tidak jauh beda dengan beberapa kiai-kiai besar NU yang berada di jawa, pernah suatu hari saya di ajak oleh sahabat saya idy muzayyad (ketua umum IPNU) yang kebetulan malam itu di telepon oleh kiai hasyim muzadi (ketua umum PBNU) untuk datang kerumah beliau. Sesampai dirumah kiai hasyim, saya dan idy harus menunggu dulu, karena pak kiai hasyim lagi menerima tamu, sampai pukul 24.00 (wita) barulah kiai hasyim menemui kami, tak lama ngobrol beberapa jam kiai hasyim mengajak kami berdua untuk jalan-jalan melihat pesantren mahasiswa Al-hikam depok yang dalam tahap pembangunan. Dalam benak saya saat itu agak sedikit jengkel, bagaimana tidak, jauh-jauh ke depok, larut malam, hanya untuk keliling melihat gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Pada saat saya masih nyantri di pondok pesantren annahdlah, saya juga sering diajak oleh kiai harisah, setiap selesai pengajian shubuh kiai harisah menginspeksi pembagunan annahdlah kampus tiga. Ternyata apa yang dilakukan kiai hasyim sama, mungkin disinilah letak ke ikhlasan beliau dalam menyebarkan agama islam melalui pondok pesantren, bahkan merupakan karya seni tersendiri.
Ekstrimnya geografis kota makassar, serta karakteristik penduduknya pun sangat keras, setidaknya sulawesi selatan secara umum di tempati oleh beberapa suku diantaranya suku bugis, suku makassar dan suku mandar. Awal berdirinya pondok pesantren annahdlah berawal dari pengajian-pengajian biasa yang saat itu santrinya hanya berjumlah tujuh orang, sehingga pengajian ini diberi nama ashabul kahfi, generasi awal ini di bimbing langsung oleh kiai harisah yang saat itu baru selesai menamatkan pendidikannya di IAIN Alauddin makassar yang sekarang berubah menjadi UIN Alauddin.
Pergaulan yang sangat keras masyarakat kota makassar di dekade 1980an mampu dirubah oleh seorang kiai kampung, maenstream pemikirin masyarakat saat itu tidak jauh dengan masa-masa jahiliyah di jaman rasulullah, masyarakat makassar senang bermabuk-mabukan, tawuran dan berjudi. Sehingga sebahagian remaja-remaja yang ada saat itu enggan untuk belajar agama, untunglah seorang kiai muda mempunyai inisiatif merangkul remaja-remaja disekitaran rumah kiai harisah untuk di bimbing ke jalan islam.
Alhasil, dari tahun-ketahun perkembangan pengajian ini terus mengalami kemajuan sehingga rumah kiai harisah yang di jadikan tempat pengajian bertambah penuh sehingga tidak mampu lagi menampung anak-anak islam yang ingin mendalami agamanya.
Keikhlasan beliau dalam mengajarkan agama, membagun moral masyarakat serta membina remaja-remaja islam membawa beliau dalam membangun peradaban baru di kota makassar, pondok pesantren yang beliau rintis, yang awal mulanya hanya tujuh orang santri, kini menjadi ribuan santri. Tapi yang tidak pernah berubah, tempat belajar, saat saya masih nyantri di annahdlah kadang kelas-kelas kebanjiran ketika hujan tiba, atau kalau kelas-kelas pada penuh terpaksa saya harus belajar di dekat tempat sampah. Tapi kiai harisah tidak pernah mematahkan semangat kami, semangat beliau luar biasa dalam membangun pondasi keislaman ala ahlussunnah wal jamaah (aswajah).
Pada suatu hari saya pernah melihat beliau dalam keadaan pusing, ketika pondok pesantren kami mendapat musibah, dimana orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk di bangunin pesantren tiba-tiba di tarik kembali, wallahu ’lam apa penyebabnya kenapa orang ini menarik kembali tanah wakaf yang telah di banguni pesantren. Sampai kiai harisah harus berurusan dengan pengadilan dan kepolisian, mahkamah agung pun lewat keputusan bandingnya memenangkan orang tersebut. Apa boleh buat, kami harus mencari keadilan kemana lagi?, tapi semangat kiai harisah tidak pernah surut dalam mengembangkan pondok pesantren annahdlah, justeru saya sangat terharu mendengarkan perkataan beliau dalam bahasa bugis ”resopa temanginggi, naletei pammase puang” kerja keras yang tiada henti akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.
Apa yang saya ceritakan diatas adalah sebahagian persentuhan saya dengan guru yang sekaligus panutan saya kiai harisah, beliau yang telah mengajarkan saya banyak hal, bukan hanya ilmu keislaman, tapi ilmu ke teknikan pun beliau luar biasa, bukan hanya beliau sebagai kepala rumah tangga ketika beliau berada ditengah-tegah keluarganya, tetapi beliau bisa mengambil peran sebagai orang tua ketika beliau berhadapan dengan santri-santrinya, bahkan beliau menjadi aktivis pembela Nahdlatul Ulama (NU) ketika orang-orang ”kuning” mengkebiri NU saat itu, kiai harisah tampil sebagai salah satu orang yang berani mempertaruhkan jabatan beliau sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dari pada beliau harus keluar dari Nahdlatul Ulama.
Dimana pada masa orde baru, sulawesi selatan pada umumnya di kuasai oleh ”orang-orang kuning” pondok-pondok pesantren harus masuk ke dalam partai kuning, kiai-kiai pun harus mendukung partai kuning kalau pesantrennya mau di bantu dan di perhatikan oleh pemerintah.
Disinilah pertaruhan ke NUan di coba, ternyata sebahagian orang-orang NU merasa takut sehingga mereka ramai-ramai meninggalkan NU (Pragmatis). Disinilah saya melihat pertaruhan kiai harisah, beliau siap di copot PNS-nya, beliau siap pesantren annahdlah tidak dapat bantuan dari pemerintah dari pada beliau meninggalkan Nahdlatul Ulama. Pada akhirnya juga pondok pesantren Annahdlah besar tanpa ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.
Memasuki era reformasi, dimana episode reformasi menghantarkan kemenangan kaum santri pada puncak kepemimpinan nasional di republik ini, bapak santri yaitu kiai Abdurrahman Wahid sebagai presiden ke empat, sejumlah tokoh-tokoh yang pernah mengikrarkan diri keluar dari NU kini berbondong-bondong kembali menyatakan diri sebagai ”pejuang NU”. Bahkan tanpa ada rasa malu, mereka menggesar posisi kiai harisah sebagai kiai struktural di NU, tanpa merasa tergusur pun kiai harisah masih membangun pondasi ke islam ala ahlussunnah wal jamaah, beliau masih mempunyai keyakinan bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai kader-kader tangguh dalam mempertahankan ahlussunnah di indonesia, beliau juga masih mempunyai rasa nasionalisme keindonesiaan yang kokoh, yang setiap harinya selalu di ajarkan pada jamaah dan santri-santrinya.
Pondok pesantren annahdlah merupakan ujung tombak pertahanan NU di timur indonesia, pengkaderan intelektual muda Nahdlatul Ulama lahir dari Annahdlah. Bahkan saya pun masih optimis masih banyak kiai-kiai kampung seperti kiai harisah yang masih ikhlas membangun mentalitas ke NUan di hati anak-anak muda indonesia, sehingga seratus tahun kedepan Nahdlatul Ulama masih bisa berdiri kokoh.
Sekolah Demokrasi di IPNU
Mereviuw sejarah pendidikan demokrasi di IPNU ada sebuah pergolakan ketika era kepemimpinan rekan Abdullah Azwar Anas, yang ketika itu di non aktifkan oleh Pengurus Harian PP IPNU karena maju menjadi calon legislatif dari Parti Kebangkitan Bangsa (PKB), persoalannya bukan hanya pencalegkan pada saat itu, tetapi rangkap jabatan yang secara tegas di atur dalam Peraturan Rumah Tangga IPNU Bab VII Pasal 21 mengenai rangkap jabatan. Dimana pada saat itu rekan Abdullah Azwar Anas, bukan hanya calon legislatif tetapi salah satu wakil sekretaris jenderal DPP PKB, maka dalam perundang-undangan IPNU (Peraturan Organisasi) pengurus harian yang merangkap dua atau lebih jabatan pengurus harian di lingkungan Nahdlatul Ulama, organisasi politik, beserta neven-nevennya pada semua tingkatan, harus memilih salah satunya dalam jangka waktu 4 bulan.
Melalui Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS IPNU) di
Bagimana dengan PP IPNU saat ini?, secara tegas sikap PP IPNU mengenai Pemilu 2009 belum sepenuhnya mengatur aparat-aparat struktural IPNU, dalam perundang-undangan IPNU belum ada pasal yang mengatur mengenai keikutsertaan organisasi dalam pesta demokrasi di seluruh indonesia seperti mengatur kader-kader ipnu yang akan ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah, calon legislatif serta calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Identifikasi kasus saat ini beberapa kader IPNU yang yang ikut dalam pesta demokrasi baik itu pemilihan kepala daerah atau pemilu 2009 nantinya, diantaranya rekan Paryadi selaku ketua PW IPNU Kalimantan Barat menjadi calon wakil walikota pontianak, rekan Talkhis Ketua PW IPNU jawa tengah maju menjadi calon Dewan Perwakilan Daerah dari propinsi jawa tengah serta rekan Hariwibowo ketua pimpinan cabang IPNU kab. Jayapura sebagai calon legislatif DPRD I kab. Jayapura. dan beberapa pengurus PP IPNU yang juga nantinya akan maju sebagai calon legislatif dari partai yang berbeda-beda.
a. belajar dari kekalahan.
Traumatik sebahagian kader-kader IPNU dan jamaah NU pada umumnya sangat akut, bagaimana tidak pada pemilihan presiden 2004 saat itu ketika ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. A. Hasyim Muzadi maju menjadi salah satu kandidat wakil presiden mendampingi Megawati Soekarno Putri yang di usung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P), beberapa tim sukses Mega-hasyim saat itu secara massif memakai kekuatan Nahdlatul Ulama untuk menyeret organisasi ini ke politik praktis.
Belum lagi kasus-kasus pemilihan kepala daerah langsung yang melibatkan pertarungan kader-kader NU seperti majunya ketua PW NU Jawa tengah sebagai calon wakil gubernur jawa tengah yang kemudian kalah, lalu di jawa barat kandidat yang di usung oleh Nahdlatul Ulama secara informal juga keok, pertarungan mustasyar Nahdlatul Ulama di sulawesi selatan juga berlangsung panas, dimana H.M.Amin syam harus berhadapan dengan H. Agus Arifin Nu’mang. Terakhir adalah pemilihan kepala daerah propinsi jawa timur yang putaran kedua nantinya akan terjadi all NU final antara Khofifah sebagai calon gubernur melawan Syaifullah yusuf (Gus Ipul) sebagai wakil gubernur.
Belum lagi sebahgian dari politisi-politisi Nahdlatul Ulama menampilkan akrobat politik, bahkan sebahagian dari ungkapan masyarakat yang mengatakan politisi yang lahir dari Nahdlatul Ulama adalah “karbitan” bagimana tidak, beberapa kasus di republik ini yang melibatkan politisi NU harus berakhir di kamar prodeo. Benteng pertahanan NU belum mampu melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus yang berbau politis.
b. mulai dari rumah IPNU.
Saat ini pimpinan pusat harus membuat produk undang-undang yang mengatur tentang keterlibatan aparatur IPNU pada pemilihan kepala daerah dan pemilu 2009 di seluruh tingkatan oragnisasi. Dalam rapat badan pengurus harian pimpinan pusat IPNU telah mengambil langkah maju paling tidak PP IPNU saat ini bisa memperlihatkan pengelolaan aparatur organisasi sebagai bagian dari distribusi kader, paling tidak lahirnya peraturan pimpinan pusat nantinya bisa memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kader IPNU bahwa rumah IPNU bukan tempat pengkaderan bagi partai politik.
IAPAN : “Sebuah Manajemen Pemberdaya Santri”
Ikatan Alumni Pesantren Annahdlah (IAPAN) yang cita-cita awal didirikannya adalah sebagai sebuah wadah penyatuan komunitas santri /pelajar yang menamatkan pendidikanya di pondok pesantren annahdlah. Founding fighter IAPAN ini pada awalnya lahir dari sejarah dalam penyatuaan ide-ide pemikiran yang berbeda-beda, serta karakter keilmuan yang berbeda pula, sebut saja Ahmad baso, Afifuddin, Kamislaeni, Saidah, Tawakkal, Firdaus umar serta beberapa alumni lainnya yang mampu meninggalkan egosentris pemikiran masing-masing sehingga melahirkan sebuah wadah penyatuan alumni annahdlah.
Dalam perjalananya IAPAN paling tidak memiliki tiga fase pasang surut dalam hal me”manejemen”i sumber daya alumni yang ada saat ini. Fase pertama adalah pencarian entitas dan identitas diri. Yang kedua merekonstruksi sistem pengkaderan dan yang terakhir adalah pemberdayaan sumber daya alumni.
A. Pencarian entitas dan Identitas diri.
Dekade awal berdirinya IAPAN paling tidak bisa membawa ciri khas ke-Annahdlaan yang berawal dari entitas kesantrian. Tetapi para pendirinya belum mampu melahirkan identitas tersendiri bagi komunitas IAPAN. Mungkin karena annahdlah selaku ”mesin pencetak” santri belum sepenuhnya melahirkan alumni-alumni dari sisi kuantitas, tetapi sudah mampu dan berhasil melahirkan alumni yang mempunyai kualitas yang luar biasa. Sehingga IAPAN pada dekade 90an mampu menyumbangkan sebuah maha karya ”IAPAN” ini ke hadapan para santri yang telah menamatkan pendidikannya di annahdlah.
B. Merekonstruksi sistem pengkaderan santri dan Alumni.
Pola pengkaderan yang ada saat ini di annahdlah masih belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan wawasan kepemimpinan dalam membangun militansi ke”santri”an terhadap kiai dan pesantren. Pola-pola pengkaderan yang ada masih menggunakan sistem yang klasikal tanpa ada niat untuk melakukan perubahan manajemen pengkaderan yang lebih terbuka bagi kalangan santri dan alumni yang ada. Saatnya para alumni membuat sebuah komisi yang khusus menangani sistem pengkaderan yang lebih ”radikal” untuk membangkitkan semangat militansi. Latihan Dasar Kepemimpinan dan Kesantrian (LDKK) yang ada saat ini hanya menjadi sebuah ritual-ritual tahunan yang outputnya tidak jelas. Sehingga pengkaderan yang ada saat ini hanya menjadi sebuah unjuk ”kekuatan” bagi sebahagian santri bahkan alumni yang mengarah pada ”kekerasan”, sehingga tiap tahunnya pengkaderan kita hanya melahirkan kader-kader yang ”bingung” bahkan cenderung menjadi ”penakut” sehingga selepas santri ini menyelesaikan pendidikannya di annahdlah, tidak sepenuhnya mempunyai rasa ke”santri”an yang berpihak pada almamater dan kiainya, bahkan menposisikan diri sebagai ”lawan” terhadap almamaternya sendiri.
C. Pemberdayaan sumber daya alumni.
Saat ini IAPAN belum mempunyai data base yang baku mengenai perkembangan kuantitas alumni dari tahun ke tahun, distribusi alumni di perguruan tinggi belum sepenuhnya terjamah sehingga ketika kita berdebat pada angka-angka prosentase sumberdaya alumni yang ada di beberapa perguruan tinggi dengan disiplin ilmu yang berbeda belum sepenuhnya terpenuhi. Saatnya IAPAN melakukan sensus terhadap anggotanya dalam hal disiplin ilmu yang dijalani para anggota IAPAN seperti berapa presentase anggota IAPAN yang mengambil disiplin ilmu-ilmu agama, ilmu sosial dan ilmu alam?. Seberapa besar anggota IAPAN yang saat ini berpendidikan strata satu, strata dua atau bahkan strata tiga?. Seberapa besar anggota IAPAN saat ini menjadi pengusaha, profesional atau politisi?. Dengan managamen yang ada saat ini IAPAN belum bisa memberikan angka bahkan grafik dari tahun ketahun mengenai perkembangan anggotanya yang ada. Sehingga ketika IAPAN di perhadapkan pada posisi pemberdayaan santri, IAPAN belum sepenuhnya bisa memberikan sebuah kanalisasi distribusi bagi anggotanya.
Dengan kuantitas anggota IAPAN saat ini, organisasi ini belum sepenuhnya mempunyai kepercayaan diri dalam berbagai sektor, sehingga setiap program-program kegiatan yang dilahirkan cenderung masih bersifat massif dan belum sepenuhnya menyentuh pada pemberdayaan anggota, sehingga apabila di tautkan dengan organisasi santri di pesantren (Osis) IAPAN justeru menjadi bagian dari “OSIS”.
Saatnya IAPAN membenahi struktur dan infrastruktur organisasi, kalau kita tidak akan ketinggalan dalam sebuah moment, revitalisasi dibidang pengkaderan dan organisasi harus segera di laksanakan, saatnya masyarakat alumni untuk bekerja memperbaiki dan mengembangkan IAPAN dengan tidak mengabaikan rambu-rambu ke”annahdlaan”.







