MENJARING PEMIMPIN MASA DEPAN

Pada saat ini terdapat proses perubahan mendasar dalam sistem kenegaraan kita, yang sangat mempengaruhi strategi perjuangan organisasi. Tuntutan demokratisasi dan wacana keterbukaan yang begitu dahsyat telah mampu menumbangkan kekuasaan negara totaliter, melalui gerakan reformasi.
Di sisi lain, di saat Nahdlatul Ulama berusaha memapankan posisinya sebagai motor penggerak terciptanya civil society yang kokoh, tiba-tiba Gus Dur, Bapak sekaligus Guru Besar NU terpilih menjadi presiden RI yang keempat. Mau tidak mau, NU harus melakukan reposisi, dan redefinisi dalam rangka memnetukan strategi keberperanannya dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam konteks upaya reposisi, dan juga regenerasi, maka dalam pelatihan kader muda IPNU ini menemukan momentumnya dalam rangka menjaring pemimpin-pemimpin masa depan, terkhusus di lingkungan Nahdlatul Ulama.
IPNU jika diibaratkan sebagai perahu yang lengkap nakhodahnya dan menunggu waktu untuk berlayar, permasalahannya sekarang adalah, bagaimana kesiapan para penumpang (baca: massa IPNU) untuk berlayar bersama-sama. Sudahkah mental kader-kader kita tertata rapi untuk menaiki kapal yang bagi mereka terkesan baru sehingga dapat berlayar bersama mengarungi samudera dengan suasana kondusif dan mengasyikkan. Atau justru karena ketidaksiapannya untuk berlayar (atau lebih tepatnya belum siapnya), mereka malah nyerimpungi dan menyebabkan kapal ini karam.
Atau justru mereka telah sangat siap dengan keluguannya, karena mereka biasa berlayar untuk menuai ikan dilaut, sementara nahkodanya tidak terlatih mengemudikan perahu, sehingga tidak akan pernah sampai di pelabuhan.
Ada sebuah kehidupan masyarakat yang mandiri terhadap negara. Mereka juga punya komitmen untuk tetap terikat pada norma-norma yang telah disepakati bersama. Kemandirian itu terjadi lantaran kehidupan ekonomi mereka telah bisa dilaksanakan secara swasembada. Bukan Cuma itu. Nilai-nilai keswadayaan serta kesukarelaan telah menjadi ”gaya hidup” mereka.
Gambaran diatas merupakan type ideal dari masyarakat kewargaan (sipil), atau yang disebut civil cosiety. Sebuah cita-cita yang masih jauh bila dihubungkan dengan realitas bangsa kita. Namun gerakan-gerakan untuk mencapai ke arah itu, kini telah dilakukan oleh berbagai pihak. Dan Gus dur merupakan salah satu pentolannya.
Kiai Harisah : “Kiai kampung, Pejuang NU”
Membaca tulisan kang Acep Zamzam Noor (putra kiai Ilyas Ruchiyat) yang berjudul NU dan Kiyai kampung, saya langsung teringat dengan kiai harisah (pimpinan pondok pesantren Annahdlah makassar) beliau bukan hanya sebagai guru yang mengajarkan luasnya lautan keislaman tetapi beliau juga sebagai sosok pemimpin yang luar biasa.
Gaya berfikir beliau tidak jauh beda dengan beberapa kiai-kiai besar NU yang berada di jawa, pernah suatu hari saya di ajak oleh sahabat saya idy muzayyad (ketua umum IPNU) yang kebetulan malam itu di telepon oleh kiai hasyim muzadi (ketua umum PBNU) untuk datang kerumah beliau. Sesampai dirumah kiai hasyim, saya dan idy harus menunggu dulu, karena pak kiai hasyim lagi menerima tamu, sampai pukul 24.00 (wita) barulah kiai hasyim menemui kami, tak lama ngobrol beberapa jam kiai hasyim mengajak kami berdua untuk jalan-jalan melihat pesantren mahasiswa Al-hikam depok yang dalam tahap pembangunan. Dalam benak saya saat itu agak sedikit jengkel, bagaimana tidak, jauh-jauh ke depok, larut malam, hanya untuk keliling melihat gedung yang masih dalam tahap pembangunan. Pada saat saya masih nyantri di pondok pesantren annahdlah, saya juga sering diajak oleh kiai harisah, setiap selesai pengajian shubuh kiai harisah menginspeksi pembagunan annahdlah kampus tiga. Ternyata apa yang dilakukan kiai hasyim sama, mungkin disinilah letak ke ikhlasan beliau dalam menyebarkan agama islam melalui pondok pesantren, bahkan merupakan karya seni tersendiri.
Ekstrimnya geografis kota makassar, serta karakteristik penduduknya pun sangat keras, setidaknya sulawesi selatan secara umum di tempati oleh beberapa suku diantaranya suku bugis, suku makassar dan suku mandar. Awal berdirinya pondok pesantren annahdlah berawal dari pengajian-pengajian biasa yang saat itu santrinya hanya berjumlah tujuh orang, sehingga pengajian ini diberi nama ashabul kahfi, generasi awal ini di bimbing langsung oleh kiai harisah yang saat itu baru selesai menamatkan pendidikannya di IAIN Alauddin makassar yang sekarang berubah menjadi UIN Alauddin.
Pergaulan yang sangat keras masyarakat kota makassar di dekade 1980an mampu dirubah oleh seorang kiai kampung, maenstream pemikirin masyarakat saat itu tidak jauh dengan masa-masa jahiliyah di jaman rasulullah, masyarakat makassar senang bermabuk-mabukan, tawuran dan berjudi. Sehingga sebahagian remaja-remaja yang ada saat itu enggan untuk belajar agama, untunglah seorang kiai muda mempunyai inisiatif merangkul remaja-remaja disekitaran rumah kiai harisah untuk di bimbing ke jalan islam.
Alhasil, dari tahun-ketahun perkembangan pengajian ini terus mengalami kemajuan sehingga rumah kiai harisah yang di jadikan tempat pengajian bertambah penuh sehingga tidak mampu lagi menampung anak-anak islam yang ingin mendalami agamanya.
Keikhlasan beliau dalam mengajarkan agama, membagun moral masyarakat serta membina remaja-remaja islam membawa beliau dalam membangun peradaban baru di kota makassar, pondok pesantren yang beliau rintis, yang awal mulanya hanya tujuh orang santri, kini menjadi ribuan santri. Tapi yang tidak pernah berubah, tempat belajar, saat saya masih nyantri di annahdlah kadang kelas-kelas kebanjiran ketika hujan tiba, atau kalau kelas-kelas pada penuh terpaksa saya harus belajar di dekat tempat sampah. Tapi kiai harisah tidak pernah mematahkan semangat kami, semangat beliau luar biasa dalam membangun pondasi keislaman ala ahlussunnah wal jamaah (aswajah).
Pada suatu hari saya pernah melihat beliau dalam keadaan pusing, ketika pondok pesantren kami mendapat musibah, dimana orang yang telah mewakafkan tanahnya untuk di bangunin pesantren tiba-tiba di tarik kembali, wallahu ’lam apa penyebabnya kenapa orang ini menarik kembali tanah wakaf yang telah di banguni pesantren. Sampai kiai harisah harus berurusan dengan pengadilan dan kepolisian, mahkamah agung pun lewat keputusan bandingnya memenangkan orang tersebut. Apa boleh buat, kami harus mencari keadilan kemana lagi?, tapi semangat kiai harisah tidak pernah surut dalam mengembangkan pondok pesantren annahdlah, justeru saya sangat terharu mendengarkan perkataan beliau dalam bahasa bugis ”resopa temanginggi, naletei pammase puang” kerja keras yang tiada henti akan mendapatkan rahmat dari Allah swt.
Apa yang saya ceritakan diatas adalah sebahagian persentuhan saya dengan guru yang sekaligus panutan saya kiai harisah, beliau yang telah mengajarkan saya banyak hal, bukan hanya ilmu keislaman, tapi ilmu ke teknikan pun beliau luar biasa, bukan hanya beliau sebagai kepala rumah tangga ketika beliau berada ditengah-tegah keluarganya, tetapi beliau bisa mengambil peran sebagai orang tua ketika beliau berhadapan dengan santri-santrinya, bahkan beliau menjadi aktivis pembela Nahdlatul Ulama (NU) ketika orang-orang ”kuning” mengkebiri NU saat itu, kiai harisah tampil sebagai salah satu orang yang berani mempertaruhkan jabatan beliau sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dari pada beliau harus keluar dari Nahdlatul Ulama.
Dimana pada masa orde baru, sulawesi selatan pada umumnya di kuasai oleh ”orang-orang kuning” pondok-pondok pesantren harus masuk ke dalam partai kuning, kiai-kiai pun harus mendukung partai kuning kalau pesantrennya mau di bantu dan di perhatikan oleh pemerintah.
Disinilah pertaruhan ke NUan di coba, ternyata sebahagian orang-orang NU merasa takut sehingga mereka ramai-ramai meninggalkan NU (Pragmatis). Disinilah saya melihat pertaruhan kiai harisah, beliau siap di copot PNS-nya, beliau siap pesantren annahdlah tidak dapat bantuan dari pemerintah dari pada beliau meninggalkan Nahdlatul Ulama. Pada akhirnya juga pondok pesantren Annahdlah besar tanpa ada bantuan sedikit pun dari pemerintah.
Memasuki era reformasi, dimana episode reformasi menghantarkan kemenangan kaum santri pada puncak kepemimpinan nasional di republik ini, bapak santri yaitu kiai Abdurrahman Wahid sebagai presiden ke empat, sejumlah tokoh-tokoh yang pernah mengikrarkan diri keluar dari NU kini berbondong-bondong kembali menyatakan diri sebagai ”pejuang NU”. Bahkan tanpa ada rasa malu, mereka menggesar posisi kiai harisah sebagai kiai struktural di NU, tanpa merasa tergusur pun kiai harisah masih membangun pondasi ke islam ala ahlussunnah wal jamaah, beliau masih mempunyai keyakinan bahwa Nahdlatul Ulama mempunyai kader-kader tangguh dalam mempertahankan ahlussunnah di indonesia, beliau juga masih mempunyai rasa nasionalisme keindonesiaan yang kokoh, yang setiap harinya selalu di ajarkan pada jamaah dan santri-santrinya.
Pondok pesantren annahdlah merupakan ujung tombak pertahanan NU di timur indonesia, pengkaderan intelektual muda Nahdlatul Ulama lahir dari Annahdlah. Bahkan saya pun masih optimis masih banyak kiai-kiai kampung seperti kiai harisah yang masih ikhlas membangun mentalitas ke NUan di hati anak-anak muda indonesia, sehingga seratus tahun kedepan Nahdlatul Ulama masih bisa berdiri kokoh.
Sekolah Demokrasi di IPNU
Mereviuw sejarah pendidikan demokrasi di IPNU ada sebuah pergolakan ketika era kepemimpinan rekan Abdullah Azwar Anas, yang ketika itu di non aktifkan oleh Pengurus Harian PP IPNU karena maju menjadi calon legislatif dari Parti Kebangkitan Bangsa (PKB), persoalannya bukan hanya pencalegkan pada saat itu, tetapi rangkap jabatan yang secara tegas di atur dalam Peraturan Rumah Tangga IPNU Bab VII Pasal 21 mengenai rangkap jabatan. Dimana pada saat itu rekan Abdullah Azwar Anas, bukan hanya calon legislatif tetapi salah satu wakil sekretaris jenderal DPP PKB, maka dalam perundang-undangan IPNU (Peraturan Organisasi) pengurus harian yang merangkap dua atau lebih jabatan pengurus harian di lingkungan Nahdlatul Ulama, organisasi politik, beserta neven-nevennya pada semua tingkatan, harus memilih salah satunya dalam jangka waktu 4 bulan.
Melalui Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS IPNU) di
Bagimana dengan PP IPNU saat ini?, secara tegas sikap PP IPNU mengenai Pemilu 2009 belum sepenuhnya mengatur aparat-aparat struktural IPNU, dalam perundang-undangan IPNU belum ada pasal yang mengatur mengenai keikutsertaan organisasi dalam pesta demokrasi di seluruh indonesia seperti mengatur kader-kader ipnu yang akan ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah, calon legislatif serta calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Identifikasi kasus saat ini beberapa kader IPNU yang yang ikut dalam pesta demokrasi baik itu pemilihan kepala daerah atau pemilu 2009 nantinya, diantaranya rekan Paryadi selaku ketua PW IPNU Kalimantan Barat menjadi calon wakil walikota pontianak, rekan Talkhis Ketua PW IPNU jawa tengah maju menjadi calon Dewan Perwakilan Daerah dari propinsi jawa tengah serta rekan Hariwibowo ketua pimpinan cabang IPNU kab. Jayapura sebagai calon legislatif DPRD I kab. Jayapura. dan beberapa pengurus PP IPNU yang juga nantinya akan maju sebagai calon legislatif dari partai yang berbeda-beda.
a. belajar dari kekalahan.
Traumatik sebahagian kader-kader IPNU dan jamaah NU pada umumnya sangat akut, bagaimana tidak pada pemilihan presiden 2004 saat itu ketika ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. A. Hasyim Muzadi maju menjadi salah satu kandidat wakil presiden mendampingi Megawati Soekarno Putri yang di usung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P), beberapa tim sukses Mega-hasyim saat itu secara massif memakai kekuatan Nahdlatul Ulama untuk menyeret organisasi ini ke politik praktis.
Belum lagi kasus-kasus pemilihan kepala daerah langsung yang melibatkan pertarungan kader-kader NU seperti majunya ketua PW NU Jawa tengah sebagai calon wakil gubernur jawa tengah yang kemudian kalah, lalu di jawa barat kandidat yang di usung oleh Nahdlatul Ulama secara informal juga keok, pertarungan mustasyar Nahdlatul Ulama di sulawesi selatan juga berlangsung panas, dimana H.M.Amin syam harus berhadapan dengan H. Agus Arifin Nu’mang. Terakhir adalah pemilihan kepala daerah propinsi jawa timur yang putaran kedua nantinya akan terjadi all NU final antara Khofifah sebagai calon gubernur melawan Syaifullah yusuf (Gus Ipul) sebagai wakil gubernur.
Belum lagi sebahgian dari politisi-politisi Nahdlatul Ulama menampilkan akrobat politik, bahkan sebahagian dari ungkapan masyarakat yang mengatakan politisi yang lahir dari Nahdlatul Ulama adalah “karbitan” bagimana tidak, beberapa kasus di republik ini yang melibatkan politisi NU harus berakhir di kamar prodeo. Benteng pertahanan NU belum mampu melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus yang berbau politis.
b. mulai dari rumah IPNU.
Saat ini pimpinan pusat harus membuat produk undang-undang yang mengatur tentang keterlibatan aparatur IPNU pada pemilihan kepala daerah dan pemilu 2009 di seluruh tingkatan oragnisasi. Dalam rapat badan pengurus harian pimpinan pusat IPNU telah mengambil langkah maju paling tidak PP IPNU saat ini bisa memperlihatkan pengelolaan aparatur organisasi sebagai bagian dari distribusi kader, paling tidak lahirnya peraturan pimpinan pusat nantinya bisa memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kader IPNU bahwa rumah IPNU bukan tempat pengkaderan bagi partai politik.
IAPAN : “Sebuah Manajemen Pemberdaya Santri”
Ikatan Alumni Pesantren Annahdlah (IAPAN) yang cita-cita awal didirikannya adalah sebagai sebuah wadah penyatuan komunitas santri /pelajar yang menamatkan pendidikanya di pondok pesantren annahdlah. Founding fighter IAPAN ini pada awalnya lahir dari sejarah dalam penyatuaan ide-ide pemikiran yang berbeda-beda, serta karakter keilmuan yang berbeda pula, sebut saja Ahmad baso, Afifuddin, Kamislaeni, Saidah, Tawakkal, Firdaus umar serta beberapa alumni lainnya yang mampu meninggalkan egosentris pemikiran masing-masing sehingga melahirkan sebuah wadah penyatuan alumni annahdlah.
Dalam perjalananya IAPAN paling tidak memiliki tiga fase pasang surut dalam hal me”manejemen”i sumber daya alumni yang ada saat ini. Fase pertama adalah pencarian entitas dan identitas diri. Yang kedua merekonstruksi sistem pengkaderan dan yang terakhir adalah pemberdayaan sumber daya alumni.
A. Pencarian entitas dan Identitas diri.
Dekade awal berdirinya IAPAN paling tidak bisa membawa ciri khas ke-Annahdlaan yang berawal dari entitas kesantrian. Tetapi para pendirinya belum mampu melahirkan identitas tersendiri bagi komunitas IAPAN. Mungkin karena annahdlah selaku ”mesin pencetak” santri belum sepenuhnya melahirkan alumni-alumni dari sisi kuantitas, tetapi sudah mampu dan berhasil melahirkan alumni yang mempunyai kualitas yang luar biasa. Sehingga IAPAN pada dekade 90an mampu menyumbangkan sebuah maha karya ”IAPAN” ini ke hadapan para santri yang telah menamatkan pendidikannya di annahdlah.
B. Merekonstruksi sistem pengkaderan santri dan Alumni.
Pola pengkaderan yang ada saat ini di annahdlah masih belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan wawasan kepemimpinan dalam membangun militansi ke”santri”an terhadap kiai dan pesantren. Pola-pola pengkaderan yang ada masih menggunakan sistem yang klasikal tanpa ada niat untuk melakukan perubahan manajemen pengkaderan yang lebih terbuka bagi kalangan santri dan alumni yang ada. Saatnya para alumni membuat sebuah komisi yang khusus menangani sistem pengkaderan yang lebih ”radikal” untuk membangkitkan semangat militansi. Latihan Dasar Kepemimpinan dan Kesantrian (LDKK) yang ada saat ini hanya menjadi sebuah ritual-ritual tahunan yang outputnya tidak jelas. Sehingga pengkaderan yang ada saat ini hanya menjadi sebuah unjuk ”kekuatan” bagi sebahagian santri bahkan alumni yang mengarah pada ”kekerasan”, sehingga tiap tahunnya pengkaderan kita hanya melahirkan kader-kader yang ”bingung” bahkan cenderung menjadi ”penakut” sehingga selepas santri ini menyelesaikan pendidikannya di annahdlah, tidak sepenuhnya mempunyai rasa ke”santri”an yang berpihak pada almamater dan kiainya, bahkan menposisikan diri sebagai ”lawan” terhadap almamaternya sendiri.
C. Pemberdayaan sumber daya alumni.
Saat ini IAPAN belum mempunyai data base yang baku mengenai perkembangan kuantitas alumni dari tahun ke tahun, distribusi alumni di perguruan tinggi belum sepenuhnya terjamah sehingga ketika kita berdebat pada angka-angka prosentase sumberdaya alumni yang ada di beberapa perguruan tinggi dengan disiplin ilmu yang berbeda belum sepenuhnya terpenuhi. Saatnya IAPAN melakukan sensus terhadap anggotanya dalam hal disiplin ilmu yang dijalani para anggota IAPAN seperti berapa presentase anggota IAPAN yang mengambil disiplin ilmu-ilmu agama, ilmu sosial dan ilmu alam?. Seberapa besar anggota IAPAN yang saat ini berpendidikan strata satu, strata dua atau bahkan strata tiga?. Seberapa besar anggota IAPAN saat ini menjadi pengusaha, profesional atau politisi?. Dengan managamen yang ada saat ini IAPAN belum bisa memberikan angka bahkan grafik dari tahun ketahun mengenai perkembangan anggotanya yang ada. Sehingga ketika IAPAN di perhadapkan pada posisi pemberdayaan santri, IAPAN belum sepenuhnya bisa memberikan sebuah kanalisasi distribusi bagi anggotanya.
Dengan kuantitas anggota IAPAN saat ini, organisasi ini belum sepenuhnya mempunyai kepercayaan diri dalam berbagai sektor, sehingga setiap program-program kegiatan yang dilahirkan cenderung masih bersifat massif dan belum sepenuhnya menyentuh pada pemberdayaan anggota, sehingga apabila di tautkan dengan organisasi santri di pesantren (Osis) IAPAN justeru menjadi bagian dari “OSIS”.
Saatnya IAPAN membenahi struktur dan infrastruktur organisasi, kalau kita tidak akan ketinggalan dalam sebuah moment, revitalisasi dibidang pengkaderan dan organisasi harus segera di laksanakan, saatnya masyarakat alumni untuk bekerja memperbaiki dan mengembangkan IAPAN dengan tidak mengabaikan rambu-rambu ke”annahdlaan”.
Bersama Prof. DR. Wahbah Zuhaili
PEMIMPIN YANG AMANAH
PEMIMPIN-PEMIMPIN MASA DEPAN
Waktu ~ Khalil Gibran
Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim. Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.
Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi, Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini. Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa. Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya? Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain? Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?
Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain, Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
SEDIKIT CORETAN...
Sajak cinta yang bercerita akan indahnya hidup Dengan sejuta hasrat agar selalu ingin bersama Sajak cinta akan Rabb yang selalu setia menjaga dan mengingatkan
Dalam syair-syair itu aku seperti yakin akan pilihanku Dalam cinta yang tumbuh hanyalah rasa Dalam kasih yang berkembang adalah jiwa
Dalam sajak cinta ini aku seperti manusia yang baru tersadar Bahwa indahnya dunia ini bukan hanya untuk dinikmati seorang Ikatlah jiwa lain dalam jiwamu untuk lebih indah
Bulan berbisik dalam sepi Agar tak ganggu khayalmu tentang kasih Seperti waktu itu ketika kau menangis Karena Matahari telah rampas mimpi indahmu yang kau rangkai dengan sejumput kasih
Kau masih merindukan akan cinta Walau kau tahu itu hanya akan menambah bencana bagimu Aku yang menawarkan kasih sayang untuk selalu melindungimu Kau henyakkan bagai kau jijik melihat bangkai dari seorang penjahat yang terbunuh
Inikah makna hidup dalam cinta itu Ataukah ini arti dari keinginan cinta itu



