Sekolah Demokrasi di IPNU

Ada yang menarik, ketika Badan Pengurus Harian Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (BPH PP IPNU) berkumpul dalam rapat harian PP IPNU. Rapat yang membahas dan mengevaluasi program kerja IPNU serta penyegaran kepengurusan Pimpinan Pusat berjalan sangat demokratis, bagaimana tidak salah satu agenda pembahasan rapat yang membutuhkan exploirasi yang sangat tajam adalah pembahasan tata aturan pimpinan pusat mengenai pencalegkan pengurus IPNU yang aktif, bukan hanya di tingkatan pengurus pusat, tapi segala tingkatan struktural IPNU di seluruh indonesia.

Mereviuw sejarah pendidikan demokrasi di IPNU ada sebuah pergolakan ketika era kepemimpinan rekan Abdullah Azwar Anas, yang ketika itu di non aktifkan oleh Pengurus Harian PP IPNU karena maju menjadi calon legislatif dari Parti Kebangkitan Bangsa (PKB), persoalannya bukan hanya pencalegkan pada saat itu, tetapi rangkap jabatan yang secara tegas di atur dalam Peraturan Rumah Tangga IPNU Bab VII Pasal 21 mengenai rangkap jabatan. Dimana pada saat itu rekan Abdullah Azwar Anas, bukan hanya calon legislatif tetapi salah satu wakil sekretaris jenderal DPP PKB, maka dalam perundang-undangan IPNU (Peraturan Organisasi) pengurus harian yang merangkap dua atau lebih jabatan pengurus harian di lingkungan Nahdlatul Ulama, organisasi politik, beserta neven-nevennya pada semua tingkatan, harus memilih salah satunya dalam jangka waktu 4 bulan.

Melalui Rapat Pimpinan Nasional (RAPIMNAS IPNU) di jakarta, rekan Abdullah Azwar Anas secara tegas memilih DPP PKB. Kemudian secara prosedur organisasi kekosongan ketua umum di gantikan oleh wakil ketua yang saat itu di jabat oleh rekan Al Amin Nur Wahab Nasution selaku pelaksana tugas ketua umum. Yang akhirnya rekan Al Amin juga di non aktifkan lewat pleno pengurus pusat IPNU karena maju sebagai calon legislatif yang di usung oleh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang kemudian mengangkat rekan Abdul Azis suaedy selaku pelaksana tugas ketua umum.

Bagimana dengan PP IPNU saat ini?, secara tegas sikap PP IPNU mengenai Pemilu 2009 belum sepenuhnya mengatur aparat-aparat struktural IPNU, dalam perundang-undangan IPNU belum ada pasal yang mengatur mengenai keikutsertaan organisasi dalam pesta demokrasi di seluruh indonesia seperti mengatur kader-kader ipnu yang akan ikut bertarung dalam pemilihan kepala daerah, calon legislatif serta calon Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Identifikasi kasus saat ini beberapa kader IPNU yang yang ikut dalam pesta demokrasi baik itu pemilihan kepala daerah atau pemilu 2009 nantinya, diantaranya rekan Paryadi selaku ketua PW IPNU Kalimantan Barat menjadi calon wakil walikota pontianak, rekan Talkhis Ketua PW IPNU jawa tengah maju menjadi calon Dewan Perwakilan Daerah dari propinsi jawa tengah serta rekan Hariwibowo ketua pimpinan cabang IPNU kab. Jayapura sebagai calon legislatif DPRD I kab. Jayapura. dan beberapa pengurus PP IPNU yang juga nantinya akan maju sebagai calon legislatif dari partai yang berbeda-beda.

a. belajar dari kekalahan.

Traumatik sebahagian kader-kader IPNU dan jamaah NU pada umumnya sangat akut, bagaimana tidak pada pemilihan presiden 2004 saat itu ketika ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. A. Hasyim Muzadi maju menjadi salah satu kandidat wakil presiden mendampingi Megawati Soekarno Putri yang di usung oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI P), beberapa tim sukses Mega-hasyim saat itu secara massif memakai kekuatan Nahdlatul Ulama untuk menyeret organisasi ini ke politik praktis.

Belum lagi kasus-kasus pemilihan kepala daerah langsung yang melibatkan pertarungan kader-kader NU seperti majunya ketua PW NU Jawa tengah sebagai calon wakil gubernur jawa tengah yang kemudian kalah, lalu di jawa barat kandidat yang di usung oleh Nahdlatul Ulama secara informal juga keok, pertarungan mustasyar Nahdlatul Ulama di sulawesi selatan juga berlangsung panas, dimana H.M.Amin syam harus berhadapan dengan H. Agus Arifin Nu’mang. Terakhir adalah pemilihan kepala daerah propinsi jawa timur yang putaran kedua nantinya akan terjadi all NU final antara Khofifah sebagai calon gubernur melawan Syaifullah yusuf (Gus Ipul) sebagai wakil gubernur.

Belum lagi sebahgian dari politisi-politisi Nahdlatul Ulama menampilkan akrobat politik, bahkan sebahagian dari ungkapan masyarakat yang mengatakan politisi yang lahir dari Nahdlatul Ulama adalah “karbitan” bagimana tidak, beberapa kasus di republik ini yang melibatkan politisi NU harus berakhir di kamar prodeo. Benteng pertahanan NU belum mampu melindungi kader-kadernya yang terjerat kasus yang berbau politis.

b. mulai dari rumah IPNU.

Saat ini pimpinan pusat harus membuat produk undang-undang yang mengatur tentang keterlibatan aparatur IPNU pada pemilihan kepala daerah dan pemilu 2009 di seluruh tingkatan oragnisasi. Dalam rapat badan pengurus harian pimpinan pusat IPNU telah mengambil langkah maju paling tidak PP IPNU saat ini bisa memperlihatkan pengelolaan aparatur organisasi sebagai bagian dari distribusi kader, paling tidak lahirnya peraturan pimpinan pusat nantinya bisa memberikan pertanggung jawaban kepada seluruh kader IPNU bahwa rumah IPNU bukan tempat pengkaderan bagi partai politik.

IAPAN : “Sebuah Manajemen Pemberdaya Santri”

Ikatan Alumni Pesantren Annahdlah (IAPAN) yang cita-cita awal didirikannya adalah sebagai sebuah wadah penyatuan komunitas santri /pelajar yang menamatkan pendidikanya di pondok pesantren annahdlah. Founding fighter IAPAN ini pada awalnya lahir dari sejarah dalam penyatuaan ide-ide pemikiran yang berbeda-beda, serta karakter keilmuan yang berbeda pula, sebut saja Ahmad baso, Afifuddin, Kamislaeni, Saidah, Tawakkal, Firdaus umar serta beberapa alumni lainnya yang mampu meninggalkan egosentris pemikiran masing-masing sehingga melahirkan sebuah wadah penyatuan alumni annahdlah.

Dalam perjalananya IAPAN paling tidak memiliki tiga fase pasang surut dalam hal me”manejemen”i sumber daya alumni yang ada saat ini. Fase pertama adalah pencarian entitas dan identitas diri. Yang kedua merekonstruksi sistem pengkaderan dan yang terakhir adalah pemberdayaan sumber daya alumni.

A. Pencarian entitas dan Identitas diri.

Dekade awal berdirinya IAPAN paling tidak bisa membawa ciri khas ke-Annahdlaan yang berawal dari entitas kesantrian. Tetapi para pendirinya belum mampu melahirkan identitas tersendiri bagi komunitas IAPAN. Mungkin karena annahdlah selaku ”mesin pencetak” santri belum sepenuhnya melahirkan alumni-alumni dari sisi kuantitas, tetapi sudah mampu dan berhasil melahirkan alumni yang mempunyai kualitas yang luar biasa. Sehingga IAPAN pada dekade 90an mampu menyumbangkan sebuah maha karya ”IAPAN” ini ke hadapan para santri yang telah menamatkan pendidikannya di annahdlah.

B. Merekonstruksi sistem pengkaderan santri dan Alumni.

Pola pengkaderan yang ada saat ini di annahdlah masih belum sepenuhnya berpihak pada pengembangan wawasan kepemimpinan dalam membangun militansi ke”santri”an terhadap kiai dan pesantren. Pola-pola pengkaderan yang ada masih menggunakan sistem yang klasikal tanpa ada niat untuk melakukan perubahan manajemen pengkaderan yang lebih terbuka bagi kalangan santri dan alumni yang ada. Saatnya para alumni membuat sebuah komisi yang khusus menangani sistem pengkaderan yang lebih ”radikal” untuk membangkitkan semangat militansi. Latihan Dasar Kepemimpinan dan Kesantrian (LDKK) yang ada saat ini hanya menjadi sebuah ritual-ritual tahunan yang outputnya tidak jelas. Sehingga pengkaderan yang ada saat ini hanya menjadi sebuah unjuk ”kekuatan” bagi sebahagian santri bahkan alumni yang mengarah pada ”kekerasan”, sehingga tiap tahunnya pengkaderan kita hanya melahirkan kader-kader yang ”bingung” bahkan cenderung menjadi ”penakut” sehingga selepas santri ini menyelesaikan pendidikannya di annahdlah, tidak sepenuhnya mempunyai rasa ke”santri”an yang berpihak pada almamater dan kiainya, bahkan menposisikan diri sebagai ”lawan” terhadap almamaternya sendiri.

C. Pemberdayaan sumber daya alumni.

Saat ini IAPAN belum mempunyai data base yang baku mengenai perkembangan kuantitas alumni dari tahun ke tahun, distribusi alumni di perguruan tinggi belum sepenuhnya terjamah sehingga ketika kita berdebat pada angka-angka prosentase sumberdaya alumni yang ada di beberapa perguruan tinggi dengan disiplin ilmu yang berbeda belum sepenuhnya terpenuhi. Saatnya IAPAN melakukan sensus terhadap anggotanya dalam hal disiplin ilmu yang dijalani para anggota IAPAN seperti berapa presentase anggota IAPAN yang mengambil disiplin ilmu-ilmu agama, ilmu sosial dan ilmu alam?. Seberapa besar anggota IAPAN yang saat ini berpendidikan strata satu, strata dua atau bahkan strata tiga?. Seberapa besar anggota IAPAN saat ini menjadi pengusaha, profesional atau politisi?. Dengan managamen yang ada saat ini IAPAN belum bisa memberikan angka bahkan grafik dari tahun ketahun mengenai perkembangan anggotanya yang ada. Sehingga ketika IAPAN di perhadapkan pada posisi pemberdayaan santri, IAPAN belum sepenuhnya bisa memberikan sebuah kanalisasi distribusi bagi anggotanya.

Dengan kuantitas anggota IAPAN saat ini, organisasi ini belum sepenuhnya mempunyai kepercayaan diri dalam berbagai sektor, sehingga setiap program-program kegiatan yang dilahirkan cenderung masih bersifat massif dan belum sepenuhnya menyentuh pada pemberdayaan anggota, sehingga apabila di tautkan dengan organisasi santri di pesantren (Osis) IAPAN justeru menjadi bagian dari “OSIS”.

Saatnya IAPAN membenahi struktur dan infrastruktur organisasi, kalau kita tidak akan ketinggalan dalam sebuah moment, revitalisasi dibidang pengkaderan dan organisasi harus segera di laksanakan, saatnya masyarakat alumni untuk bekerja memperbaiki dan mengembangkan IAPAN dengan tidak mengabaikan rambu-rambu ke”annahdlaan”.

Bersama Prof. DR. Wahbah Zuhaili

Prof. DR. Wahbah Zuhaili, ulama faqih dan ahli tafsir
dari Damaskus-Syuriah. serta pengarang buku ensiklopedia Al-Quran

ROAD TO MAKASSAR

PP IPNU Masa Khidmat 2006-2009

PEMIMPIN YANG AMANAH

Bahwa banyak pemimpin kita yg bisanya cuma retorika tanpa aksi nyata sudah menjadi fenomena umum; dari presiden sampai lurah. Dan hal ini tidak hanya terjadi di kita, tapi juga di India.Karena itu, ketika ketua partai Kongres Sonia Gandhi menolak jadi PM India disaat kekuasaan itu ada digenggamannya menjadi berita yg sangat menggemparkan. Banyak yg tidak percaya dan terhenyak kaget. Dicarilah berbagai alasan oleh kalangan lawan politiknya untuk deevaluasi langkah Sonia Gandhi tsb. Terlepas dari segala kontroversi tsb, dua hal yg jelas: bahwa ia menjadi satu-satunya pemimpin India yg menolak jabatan PM dua kali; pertama, ketika suaminya, Rajiv Gandhi tewas kena bom bunuh diri, kedua, saat dia jadi pemimpin partai Kongres. Kembali pada Indonesia, kapan kita memiliki pemimpin bermartabat dan tulus semacam Sonia Gandhi yg cukup puas karena telah mengalahkan partai fundamentalis BJP dan tidak berambisi memegang tampuk kekuasaan? Yg spirit utamanya hanya untuk mempersolid barisan nasional kebangsaan yg penuh toleransi pada semua rakyat dan mengakui realitas perbedaan? Yg cukup puas dg melihat kekalahan partai ultranasional hindu -- yg antiplurasime dan ingin menegasikan peradaban (baca: agama)selain Hindu?Mungkin harapan ini terlalu muluk sekarang. Tapi, setidaknya ini bisa diawali dg sikap awal yg tipikal dilakukan manajer sepakbola Eropa: mundurlah apabila merasa tidak mampu, apabila terlibat skandal, apabila terlibat kasus kejahatan/kriminal. Tapi, mungkinkah?

PEMIMPIN-PEMIMPIN MASA DEPAN

dari kiri. Langgean Fajri (BEM Univ. Ind. Esa Unggul), Bahri Rahman Musa (Ketua umum BEM UII Jogja), Ridwan Eko Prasetyo (Sekum Mapancas Prop. Jabar), Rizal syarifuddin (Sekjend PP IPNU), Suharlan Asby (Presma Univ. Merdeka Malang), Agus Triantono (BEM Univ. Pancasila Jakarta), Ridwan (BEM Univ. Siliwangi Tasikmalaya), Firman (DPP Gema Keadilan), Panji Ramadhan (BEM Univ. Gorontalo)

Waktu ~ Khalil Gibran

Dan seorang pakar astronomi berkata, “Guru, bagaimanakah perihal Waktu?”

Dan dia menjawab:
Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur.
Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim. Suatu ketika kau ingin membuat anak sungai, di mana atas tebingnya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya.

Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesedaran akan kehidupan nan abadi, Dan mengetahui bahawa semalam hanyalah kenangan utk hari ini dan esok adalah harapan dan impian utk hari ini. Dan yang menyanyi dan merenung dari dalam jiwa, sentiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa. Siapa di antara kalian yang tidak merasa bahawa daya mencintainya tiada batasnya? Dan siapa pula yang tidak merasa bahawa cinta sejati, walau tiada batas, terkandung di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari fikiran cinta ke fikiran cinta, pun bukan dari tindakan cinta ke tindakan cinta yang lain? Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbahagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam fikiranmu baru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkumi semua musim yang lain, Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.

SEDIKIT CORETAN...

Membangun Persaudaraan, Cinta dan Perdamaian
Pada lorong-lorong ini saat senja Aku seperti terbuai akan sebuah lantunan sajak cinta Syair-syair merdu itu seakan ingin ikut bersamaku dalam kegembiraan ini

Sajak cinta yang bercerita akan indahnya hidup Dengan sejuta hasrat agar selalu ingin bersama Sajak cinta akan Rabb yang selalu setia menjaga dan mengingatkan

Dalam syair-syair itu aku seperti yakin akan pilihanku Dalam cinta yang tumbuh hanyalah rasa Dalam kasih yang berkembang adalah jiwa

Dalam sajak cinta ini aku seperti manusia yang baru tersadar Bahwa indahnya dunia ini bukan hanya untuk dinikmati seorang Ikatlah jiwa lain dalam jiwamu untuk lebih indah
Cinta, Angan-angan dan Cita-cita adalah software waktu yang tidak bisa lenyap dalam sebuah kekuasaan.
Semilir angin dari dahan itu Mengantarkan sebuah bisikan rindu Seakan kata-kata merdu dari bibir sang dara Yang butuh kembalinya kehangatan dan kemesraan
Bulan berbisik dalam sepi Agar tak ganggu khayalmu tentang kasih Seperti waktu itu ketika kau menangis Karena Matahari telah rampas mimpi indahmu yang kau rangkai dengan sejumput kasih

Kau masih merindukan akan cinta Walau kau tahu itu hanya akan menambah bencana bagimu Aku yang menawarkan kasih sayang untuk selalu melindungimu Kau henyakkan bagai kau jijik melihat bangkai dari seorang penjahat yang terbunuh

Inikah makna hidup dalam cinta itu Ataukah ini arti dari keinginan cinta itu
 
Home | Gallery | Tutorials | Freebies | About Us | Contact Us

Copyright © 2009 Welcome |Designed by Templatemo |Converted to blogger by BloggerThemes.Net

Usage Rights

DesignBlog BloggerTheme comes under a Creative Commons License.This template is free of charge to create a personal blog.You can make changes to the templates to suit your needs.But You must keep the footer links Intact.